Ketika adat membelenggumu dan tak kau rasakan keganasan ilmu, apalah arti pikukuh mengekang, mengkandang bila jiwa memburu asa yang tertinggal di pelupuk durja, jauh dari jamahan kota. Mereka ayat-ayat pengelana, memapah adat dari kelemahan logika. Mereka para penari muda, menggertak senja yang mencoba membelenggu cahaya hingga takkan padam ditelan kemelam semesta. Walau dengan tertatih, meski merangkak, karena jiwanya telah terjaga dari kerisauannya.
“Bangun, jang.. bangun udah pagi!” suara seseorang membangunkanku, menggoyang-goyangkan tubuhku yang masih kaku. Aku menggeliat, mengucek mata yang terasa ingin mengatup lagi. Aku melirik langit yang masih belum menggeser mentari dari persembunyiannya. Gelap. Aku mengerjapkan mata dan segera duduk bersila. Teteh yang tadi membangunkanku meneruskan kesibukannya menganyam tas koja. Tas koja buatan si Teteh selalu rapi dan kelihatan bagus, kulit kayu yang kemarin kupotong dari hutan lumayan halus.
“Tah maneh .. cepat mandi geus eta bantuan si bapa ka ladang!” Ema yang juga sedang menganyam tas koja menatapku yang masih setengah linglung.
“Muhun..” aku berdiri dan berjalan keluar rumah panggung kayuku. Rumah ini berpondasi dari batu dengan tiang utama dari kayu.
Sudah adat di sini, kami tak boleh merubah apapun dari alam ini untuk menjaga keseimbangannya. Sebisa mungkin, kami melestarikan semua yang ada di sekeliling kami sebagai bagian dari adat istiadat kami. Dinding rumah panggung ini saja terbuat dari bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa.
“Aris!” aku memperbaiki posisi ikat kepala putihku saat Izal memanggilku. Aku menoleh. “Hayu, mandi bareng ka sungai!” Izal menyejajari langkahku.
“Ada orang luar lagi hayang kadieu .. maraneh teh pada kenapa, ya? suka banget kadieu?” Izal membenarkan baju adat putihnya sambil menatapku.
“Tentu karena arurang dieu mah menutup diri dari maraneh teh, maraneh jadi ingin tahu tentang arurang, merasakan kehidupan yang arurang jalani..” Izal berlagak sok berpengetahuan dengan memegang dagunya.
“Maraneh selalu menggunakan barang-barang yang bakal merusak alam, kunaon maraneh tak sadar bahwa alam selalu memberi maraneh kehidupan, tapi maraneh malah menghancurkan pemberi kehidupan!” ujarku kesal. Kami berjalan menyusuri jalan setapak di hutan, di sekeliling kami tumbuh pohon-pohon aren dan pohon albasiah yang berdiri mematung seakan memayungi kami dari dunia luar.
“Nyarios naon ai anjeun? Ngomong apa gitu kamu mah?” Izal akhirnya bertanya pada orang-orang asing baru yang datang ke desa kami itu. Mereka dari tadi bicara dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Yang kutahu, mereka berbicara dengan bahasa daerah lain.
“Eh, maaf.. kami ngomong bahasa Jawa..” mereka berbicara sambil memakai pakaian adat putih kami, lengkap dengan ikat kepala putih yang menjadi simbol penting kami. “Nama kalian siapa?” salah satu di antara mereka mengulurkan tangan padaku. “Saya Ramdhan dari Malang.. tau kota Malang, kan?” aku menjabat uluran tangan laki-laki sebayaku yang bernama Ramdhan ini.
“Saya teh Aris .. Malang teh palih mana kitu? Dimana?” aku melepaskan uluran tangan Ramdhan dan ganti menjabat tangan teman Ramdhan yang juga sebaya dengan kami.
“Eka ..” orang bernama Eka itu tersenyum. Bergantian menjabat tanganku dan Izal. Kami ditugaskan utnuk menjadi pemandu orang-orang asing yang datang kali ini.
“Malang itu di Jawa Timur.. itu yang ibu kotanya namanya Surabaya!” aku menangkap nama yang ia sebutkan barusan. Aku tau Surabaya, tentu saja tapi, hanya sebatas Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum malu pada Eka dan Ramdhan. “Jadi kalian teh kesini karena mau tahu bagaimana arurang hidup?” tanyaku basa basi sembari berjalan mengantar mereka dari gerbang depan desa Baduy Dalam yang menjadi batas antara Baduy Dalam dengan Baduy Luar. Kami menyebut diri kami sendiri Urang Kanekes Dalam dan Urang Kanekes Luar.
“Iya, kami ngambil jurusan Antropologi di perkuliahan jadi, kami ingin tahu lebih dalam dengan budaya kalian, kenapa tadi kami dilarang membawa kamera?” Eka menyahut dari belakang. Ia berjalan bersama Izal.
“Arurang ini teh buyut difoto mah.. pikukuh palih dieu teh ketat kitu.. Pu’un tidak memperbolehkan orang asing bawa kamera! Buyut teh tabu kitu, pikukuh teh peraturan dalam bahasa Sunda mah..” Aku menjelaskan dengan sesekali melihat ke arah Eka dan Ramdhan bergantian. Eka dan Ramdhan hanya menggut-manggut serentak.
“Pu’un teh naon kitu?” Ramdhan menjulurkan lidah malu saat mencoba menggunakan bahasa Sunda.
“Pu’un teh kepala adat urang Kanekes Dalam.. cara pengangkatan Pu’un teh memakai sistem keturunan, tapi tak ada batasan siapa yang akan jadi Pu’un.. asal dia masih mampu jadi Pu’un, dia akan terus jadi Pu’un.. kalau tidak mampu, ya diganti..” Izal menjelaskan dengan logat sunda yang kental. Goloknya yang terlentak di pinggang sebelah kiri bergoyang-goyang ketika ia menjelaskan.
“Kenapa kami tak boleh pakai baju kami? Sabun? Kenapa kami tak boleh bawa?” Ramdhan mulai antusias dengan penjelasan kami.
“Baju maraneh teh terbuat dari bahan yang tidak baik untuk alam, jadi maraneh teh musti pakai pakaian adat arurang, kitu pikukuh yang ditetapkan oleh Pu’un mah, teu kenging ngalawan adat.. sabun juga sama, mereka merusak alam, sedangkan arurang hidup berdampingan dengan alam, tak boleh arurang rusak alam yang telah memberi arurang kehidupan.. ngarti?” aku berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kekesalanku ketika berbicara mengenai alam yang saat ini telah mengalami kerusakan di sana-sini.
“Aku ngerti.. tapi, kami juga tak berniat merusak alam.. hanya saja sebagian dari kami ada yang tak paham dengan itu, lalu mengeksploitasi alam sembarangan hingga bencana terjadi dimana-mana karena ulah mereka.. illegal loging juga tak dapat diberantas karena aparat di luar sana banyak yang menyeleweng dari tugas, asalkan ada ini..” Eka menempelkan ujung ibu jari dengan ujung jari telunjuk dan ujung jari tengahnya lalu menggerakkanya seakan mengusap sesuatu di sana,”..uang..”.
“Kami juga marah pada mereka yang seenaknya mengeksploitasi alam tanpa melakukan reboisasi pada alam, kadang membakar hutan untuk pemukiman dan ladang pertanian, sepertinya tak akan cukup seluruh yang ada di bumi ini untuk mereka..” Ramdhan meneruskan penjelasan Eka. Aku terdiam memikirkan ucapan Eka dan Ramdhan, aku tak tau beberapa kata yang tadi mereka sebutkan, tapi aku tak berani bertanya pada mereka. Apa dunia di luar seluas itu?.
“Kuncinya hanya satu!” Izal yang sejak tadi menyimak arah pembicaraan kami mulai angkat bicara. “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.. Panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung.. Dieu teh aturan alam yang menjadi adat arurang secara turun temurun..” Ramdhan dan Eka nampak mengerti dengan apa yang dikatakan Izal, seakan mereka menemukan hal baru yang belum pernah mereka jamah dari dunia luar yang ‘seluas itu’.
“Di sini orang Kanekes Dalam tak bisa baca tulis?” Ramdhan bertanya padaku setelah kami selesai mandi di sungai. Dia berbicara sambil meraba dinding bilik bambu rumahku.
“Arurang tak diajarkan pendidikan formal semacam sekolah! Arurang bisa berbicara dan berbahasa dengan baik, kitu teh sudah cukup.. arurang dapat berladang dan menghasilkan kerajinan tangan dari kulit kayu dan menghasilkan tas koja, memanfaatkan alam tanpa merusaknya, tinggal berdampingan dengan alam, itulah kehidupan arurang..” aku menunjuk dinding rumah panggung kecil kami. “Palih ditu dari bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa, tanpa kamar mandi dan pondasi batu, kitu teh teu ngalawan alam..” Ramdhan menatapku sambil mengerutkan keningnya.
“Kenapa tak ada sekolah? Kenapa tak belajar biar bisa baca, tulis, berhitung?” Ramdhan menatapku dengan mata yang biasa aku punya ketika aku tertarik pada sesuatu, melebihi apapun. ‘Kenapa tidak sekolah? Bisa baca tulis?’ Apa mereka tak punya pertanyaan lain?
“Sekolah kitu teh tabu palih dieu, lagipula itu ngalawan adat.. Pu’un teh nyarios kalau sekolah mah hanya menghabiskan waktu arurang, sedangkan arurang teh sibuk berladang dan mencari madu serta pohon aren untuk membuat gula aren.. lagipula, nanti teh pasti akan terjadi persaingan hidup, sedangkan pengetahuan dan kemajuan pasti tidak terbatas, lalu lupa wiwitan/tujuan hidup..”
“Apa peraturan itu tak bisa diubah? Apa yang terjadi jika kalian merubah itu semua?” Ramdhan semakin bersikukuh menanyakan hal-hal yang sebenarnya membuatku tidak nyaman dengan percakapan ini.
“Gunung tak diperkenankan dilebur, lembah tak diperkenankan dirusak, larangan tak boleh dirubah.. teu kenging teh tetep teu kenging..” pembicaraan kami terhenti ketika Eka masuk ke rumah panggungku dengan Izal mengekor di belakangnya. Aku menghela nafas lega.
“Besok para tetua arangkat ka Arca Domas, arurang sekarang baiknya tidur dulu besok kan maraneh mesti pulang..” Izal langsung angkat bicara begitu ia duduk bersila di sampingku. Ia membenarkan letak goloknya.
“Arca Domas?” Eka membeo.
“Besok kau akan tahu..” Izal memutuskan untuk tidur karena terlalu lelah dengan 2 orang yang banyak ingin tahu ini. Ia berbaring di atas tikar anyaman bambu. Aku pun ikut berbaring di samping Izal, Ramdhan dan Eka mungkin agak kesulitan karena belum terbiasa tidur tanpa alas kepala. Beberapa kali aku merasakan mereka menggeser badan ke kiri dan ke kanan untuk mencari posisi tidur yang pas. Aku mencoba untuk segera tidur namun pertanyaan-pertanyaan aneh mengganjal tidurku. Aku tak mampu mengenyahkannya dari pikiranku.
“Kau tidak akan tau dunia seluas apa yang selama ini coba kau tinggalkan jika kau tak berusaha untuk keluar dari kekangan adatmu.. baca, tulis, dan berhitung itu pengetahuan penting dalam hidup..” Ramdhan berbisik pelan ketika kudengar Izal dan Eka telah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.
Hari ini, para tetua tinggi dan beberapa orang kelompoknya dengan kedudukan yang tinggi pula pergi ke Arca Domas. Arca Domas adalah tempat keramat yang terletak di dekat air sungai ciujung dan sungai cisemer. Para tetua adat pergi ke sana di bulan kelima setahun sekali, itu adalah tempat bersemayamnya Bathara Tunggal, roh halus yang kami percayai. Hanya tetua tinggi dan kelompoknya yang boleh datang ke tempat keramat itu. Di dalam Arca Domas, ada sebuah batu lembing yang jika air hujan yang menggenanginya itu bening, maka itu pertanda panen kami takkan ada masalah. Sebaliknya, jika batu lembing itu keruh dan sedikit airnya, itu pertanda bahwa panen berikutnya akan gagal.
“Rupanya kepercayaan di sini masih sangat kental.. ” Ramdhan berkata sambil bersiap-siap pergi dari daerah kami. Orang asing hanya diperbolehkan menginap selama sehari saja di sini. Tidak.
Aku menoleh ke arah Ramdhan yang masih mengenakan pakaian adat putih-putih kami. “Muhun..” aku hanya menjawab ala kadarnya saja. Jujur saja, pikiran mengenai pendidikan dan baca tulis masih menggenangi benakku dan aku masih merasa asing dengan itu. Aku teguh memegang adatku, tapi disisi lain orang ini telah berhasil mempengaruhiku.
Bagaimana rasanya orang yang mengenyam pendidikan? Bagaimana dunia luar yang penuh persaingan hidup yang ketat dengan saling menumbangkan satu sama lain? Aku bergidik membayangkannya. “Aku akan segera kembali ke Malang. Terimakasih selama ini telah mengajariku banyak hal mengenai kehidupan urang Kanekes Dalam.. kapan-kapan datanglah ke Malang jika sempat!” Ramdhan menyerahkan secarik kertas putih yang di atasnya ada tulisan berwarna hitam, “Ini alamatku..” katanya sambil menyerahkannya kepadaku. Aku mengerutkan kening menerima secarik kertas kecil itu.
“Aku tak bisa baca..” kataku agak tersinggung pada Ramdhan. Ia hanya menggaruk kepala.
Sebelum pergi, Ramdhan mengatakan hal yang kembali membuatku resah, “Dunia luar itu tak seburuk yang kau kira, mungkin memang tak selaras dengan alam.. tapi, kami juga berusaha mengikuti perkembangan jaman sembari menjaga alam..” kemudian dia pergi. Aku hanya melihat punggungnya yang semakin menjauh dengan kening berkerut.
Sumber : Cerpen Raju
25 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar