25 Desember 2014

Raja Gombal Taubat

0
Edisi raja gombal pas kuliahan…
Pagi-pagi di koridor kampus, Bondan termangu sendirian sambil bertopang dagu. Kali ini Rezky sahabat semasa SMA sudah tak satu kampus lagi dengan Bondan. Juga si Jasmine sudah putus dengannya. Tiba-tiba teman barunya dikampus bernama Eki mengagetkan Bondan yang sedang melamun sendirian.
“Woyyy!! Kenape sih elu?” tanya Eki
Bondan hanya diam dan tanpa gestur yang mengisyaratkan apa yang terjadi pada dirinya. Disusul kehadiran Asep dan Jennie.
“Punten… akang-akang. Kunaon bermuram durja ieu teh?” tegur Asep
“Kenapa nih si Bondan, Ki?” tanya Jennie
“Aaauukk! diem mulu dari tadi. Sebel gue!” jawab Eki
“Kenapa ndan? masih kepikiran sama si Jasmine?”
Bondan menggeleng.
“Terus? Kenape lo? cerita dong!!!” sahut Eki
“Punten atuh, teu seperti biasana si Akang Bondan teh cicing wae. Biasana buuuaaanyyakk ngomongna..”
Bondan yang masih terdiam dan berlalu meninggalkan Eki, Jennie, dan Asep yang terlihat mengkhawatirkannya. Memang tak seperti biasanya Bondan diam dan murung. Jurus gombalannya sudah jarang terlontar dari mulutnya. Sikap cengengesan juga sudah luput darinya. Sosok Bondan yang dulu sudah tak dikenali lagi oleh Jennie yang menjadi temannya semasa SMA.

Seminggu berlalu, sikap Bondan juga tak kunjung kembali seperti semula. Eki, Jennie dan Asep menjadi semakin resah.
“Neng, dulu teh si Bondan punya sahabat atau saha gitu yang biasanya kemana-mana selalu bersama. Ibarat sudah teu bisa dipisahkan?” tanya Asep menyelidiki
“Ada sep! Banyak malah. tapi cuma satu anak yang deket sama si Bondan. Rezky namanya.”
“Nah itu? sekarang dimana?” sahut Eki
“Kuliah di Singapore. emang kenapa sih?”
“Yaah, mungkin itu salah satu alasanna si Bondan muram begitu.” Ucap Asep menebak-nebak
“Bener tuh kata si Asep. Kali aja tuh si Bondan kangen sama sohibnyee..”
Jennie hanya manggut-manggut menyetujui ucapan Eki dan Asep.

Esoknya, Jennie coba menanyakan tentang analisa Eki dan Asep kemarin. Pagi-pagi sekali Bondan sudah berada di kantin kampus. Dengan bahasa tubuh yang sama selama seminggu ini. Bertopang dagu dan melamun.
“Ndan, udah disini aja lo..” tegur Jennie
Bondan hanya terdiam dan merespon dengan sekali tengokan.”
“Lo selama seminggu ini kenapa sih? Kangen sama si Jasmine atau sama Si Rezky?”
Bondan masih terdiam dan tak merespon apa yang ditanyakan Jennie. Sampai pada akhirnya Jennie pun kesal dan emosi.
“Terserah lo deh! mau jungkir balik kek, apaan kek! Gue gak peduli. Capek gue!” cetus Jennie tiba-tiba
Dan Bondan kaget dengan perkataan Jennie yang terbawa emosi. Bondan pun menarik lengan Jennie kearah tempat duduk semula.
“Makanya lo cerita deh…” ucap Jennie mulai melunak
Bondan tertunduk dan berbicara tanpa melihat Jennie.
“Gue ada masalah, Jen. Tapi lo jangan ceritain ke anak-anak ye? Entah Eki atau Asep. Gue mohon jaga rahasia.” Ucap Bondan yang masih tertunduk
“Serius banget ya kayanya? Gue janji deh, bakal jaga rahasia.”
Bondan pun menatap Jennie dengan serius.
“Gigi gue ompong, Jen. Gue bingung dapet duit darimana buat nambal dua gigi depan gue yang ompong.” Ucapnya sambil meratap
Hening…

Jennie terdiam dan melihat Bondan tak berkedip.
“Kenapa jadi lo yang diem?” tanya Bondan
“Jadi lo selama seminggu lebih ini diem alesannya gigi lo ompong??”
Bondan.. mengangguk pelan, dan Jennie pun terbahak.
“Sssstt… jangan keras-keras ngakaknya!”
Jennie masih tertawa dan perlahan mulai melemah suara tawanya.
“Gak nyangka betah juga ya lo diem semingguan cuma gara-gara nutupin gigi ompong. payah lo!!”
“Gak lucu kalii, masa cowok keren dan unyu macem gue begini pas ngegombal giginya ketauan ompong. Gengsi gue!”

Sumber : Cerpen Maynovika Eko Ruwanta
Read More

Tertatih Memapah Adat

0
Ketika adat membelenggumu dan tak kau rasakan keganasan ilmu, apalah arti pikukuh mengekang, mengkandang bila jiwa memburu asa yang tertinggal di pelupuk durja, jauh dari jamahan kota. Mereka ayat-ayat pengelana, memapah adat dari kelemahan logika. Mereka para penari muda, menggertak senja yang mencoba membelenggu cahaya hingga takkan padam ditelan kemelam semesta. Walau dengan tertatih, meski merangkak, karena jiwanya telah terjaga dari kerisauannya.

“Bangun, jang.. bangun udah pagi!” suara seseorang membangunkanku, menggoyang-goyangkan tubuhku yang masih kaku. Aku menggeliat, mengucek mata yang terasa ingin mengatup lagi. Aku melirik langit yang masih belum menggeser mentari dari persembunyiannya. Gelap. Aku mengerjapkan mata dan segera duduk bersila. Teteh yang tadi membangunkanku meneruskan kesibukannya menganyam tas koja. Tas koja buatan si Teteh selalu rapi dan kelihatan bagus, kulit kayu yang kemarin kupotong dari hutan lumayan halus.
“Tah maneh .. cepat mandi geus eta bantuan si bapa ka ladang!” Ema yang juga sedang menganyam tas koja menatapku yang masih setengah linglung.
“Muhun..” aku berdiri dan berjalan keluar rumah panggung kayuku. Rumah ini berpondasi dari batu dengan tiang utama dari kayu.
Sudah adat di sini, kami tak boleh merubah apapun dari alam ini untuk menjaga keseimbangannya. Sebisa mungkin, kami melestarikan semua yang ada di sekeliling kami sebagai bagian dari adat istiadat kami. Dinding rumah panggung ini saja terbuat dari bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa.
“Aris!” aku memperbaiki posisi ikat kepala putihku saat Izal memanggilku. Aku menoleh. “Hayu, mandi bareng ka sungai!” Izal menyejajari langkahku.
“Ada orang luar lagi hayang kadieu .. maraneh teh pada kenapa, ya? suka banget kadieu?” Izal membenarkan baju adat putihnya sambil menatapku.
“Tentu karena arurang dieu mah menutup diri dari maraneh teh, maraneh jadi ingin tahu tentang arurang, merasakan kehidupan yang arurang jalani..” Izal berlagak sok berpengetahuan dengan memegang dagunya.
“Maraneh selalu menggunakan barang-barang yang bakal merusak alam, kunaon maraneh tak sadar bahwa alam selalu memberi maraneh kehidupan, tapi maraneh malah menghancurkan pemberi kehidupan!” ujarku kesal. Kami berjalan menyusuri jalan setapak di hutan, di sekeliling kami tumbuh pohon-pohon aren dan pohon albasiah yang berdiri mematung seakan memayungi kami dari dunia luar.
“Nyarios naon ai anjeun? Ngomong apa gitu kamu mah?” Izal akhirnya bertanya pada orang-orang asing baru yang datang ke desa kami itu. Mereka dari tadi bicara dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Yang kutahu, mereka berbicara dengan bahasa daerah lain.
“Eh, maaf.. kami ngomong bahasa Jawa..” mereka berbicara sambil memakai pakaian adat putih kami, lengkap dengan ikat kepala putih yang menjadi simbol penting kami. “Nama kalian siapa?” salah satu di antara mereka mengulurkan tangan padaku. “Saya Ramdhan dari Malang.. tau kota Malang, kan?” aku menjabat uluran tangan laki-laki sebayaku yang bernama Ramdhan ini.
“Saya teh Aris .. Malang teh palih mana kitu? Dimana?” aku melepaskan uluran tangan Ramdhan dan ganti menjabat tangan teman Ramdhan yang juga sebaya dengan kami.
“Eka ..” orang bernama Eka itu tersenyum. Bergantian menjabat tanganku dan Izal. Kami ditugaskan utnuk menjadi pemandu orang-orang asing yang datang kali ini.
“Malang itu di Jawa Timur.. itu yang ibu kotanya namanya Surabaya!” aku menangkap nama yang ia sebutkan barusan. Aku tau Surabaya, tentu saja tapi, hanya sebatas Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum malu pada Eka dan Ramdhan. “Jadi kalian teh kesini karena mau tahu bagaimana arurang hidup?” tanyaku basa basi sembari berjalan mengantar mereka dari gerbang depan desa Baduy Dalam yang menjadi batas antara Baduy Dalam dengan Baduy Luar. Kami menyebut diri kami sendiri Urang Kanekes Dalam dan Urang Kanekes Luar.
“Iya, kami ngambil jurusan Antropologi di perkuliahan jadi, kami ingin tahu lebih dalam dengan budaya kalian, kenapa tadi kami dilarang membawa kamera?” Eka menyahut dari belakang. Ia berjalan bersama Izal.
“Arurang ini teh buyut difoto mah.. pikukuh palih dieu teh ketat kitu.. Pu’un tidak memperbolehkan orang asing bawa kamera! Buyut teh tabu kitu, pikukuh teh peraturan dalam bahasa Sunda mah..” Aku menjelaskan dengan sesekali melihat ke arah Eka dan Ramdhan bergantian. Eka dan Ramdhan hanya menggut-manggut serentak.
“Pu’un teh naon kitu?” Ramdhan menjulurkan lidah malu saat mencoba menggunakan bahasa Sunda.
“Pu’un teh kepala adat urang Kanekes Dalam.. cara pengangkatan Pu’un teh memakai sistem keturunan, tapi tak ada batasan siapa yang akan jadi Pu’un.. asal dia masih mampu jadi Pu’un, dia akan terus jadi Pu’un.. kalau tidak mampu, ya diganti..” Izal menjelaskan dengan logat sunda yang kental. Goloknya yang terlentak di pinggang sebelah kiri bergoyang-goyang ketika ia menjelaskan.
“Kenapa kami tak boleh pakai baju kami? Sabun? Kenapa kami tak boleh bawa?” Ramdhan mulai antusias dengan penjelasan kami.
“Baju maraneh teh terbuat dari bahan yang tidak baik untuk alam, jadi maraneh teh musti pakai pakaian adat arurang, kitu pikukuh yang ditetapkan oleh Pu’un mah, teu kenging ngalawan adat.. sabun juga sama, mereka merusak alam, sedangkan arurang hidup berdampingan dengan alam, tak boleh arurang rusak alam yang telah memberi arurang kehidupan.. ngarti?” aku berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kekesalanku ketika berbicara mengenai alam yang saat ini telah mengalami kerusakan di sana-sini.
“Aku ngerti.. tapi, kami juga tak berniat merusak alam.. hanya saja sebagian dari kami ada yang tak paham dengan itu, lalu mengeksploitasi alam sembarangan hingga bencana terjadi dimana-mana karena ulah mereka.. illegal loging juga tak dapat diberantas karena aparat di luar sana banyak yang menyeleweng dari tugas, asalkan ada ini..” Eka menempelkan ujung ibu jari dengan ujung jari telunjuk dan ujung jari tengahnya lalu menggerakkanya seakan mengusap sesuatu di sana,”..uang..”.
“Kami juga marah pada mereka yang seenaknya mengeksploitasi alam tanpa melakukan reboisasi pada alam, kadang membakar hutan untuk pemukiman dan ladang pertanian, sepertinya tak akan cukup seluruh yang ada di bumi ini untuk mereka..” Ramdhan meneruskan penjelasan Eka. Aku terdiam memikirkan ucapan Eka dan Ramdhan, aku tak tau beberapa kata yang tadi mereka sebutkan, tapi aku tak berani bertanya pada mereka. Apa dunia di luar seluas itu?.
“Kuncinya hanya satu!” Izal yang sejak tadi menyimak arah pembicaraan kami mulai angkat bicara. “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.. Panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung.. Dieu teh aturan alam yang menjadi adat arurang secara turun temurun..” Ramdhan dan Eka nampak mengerti dengan apa yang dikatakan Izal, seakan mereka menemukan hal baru yang belum pernah mereka jamah dari dunia luar yang ‘seluas itu’.
“Di sini orang Kanekes Dalam tak bisa baca tulis?” Ramdhan bertanya padaku setelah kami selesai mandi di sungai. Dia berbicara sambil meraba dinding bilik bambu rumahku.
“Arurang tak diajarkan pendidikan formal semacam sekolah! Arurang bisa berbicara dan berbahasa dengan baik, kitu teh sudah cukup.. arurang dapat berladang dan menghasilkan kerajinan tangan dari kulit kayu dan menghasilkan tas koja, memanfaatkan alam tanpa merusaknya, tinggal berdampingan dengan alam, itulah kehidupan arurang..” aku menunjuk dinding rumah panggung kecil kami. “Palih ditu dari bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa, tanpa kamar mandi dan pondasi batu, kitu teh teu ngalawan alam..” Ramdhan menatapku sambil mengerutkan keningnya.
“Kenapa tak ada sekolah? Kenapa tak belajar biar bisa baca, tulis, berhitung?” Ramdhan menatapku dengan mata yang biasa aku punya ketika aku tertarik pada sesuatu, melebihi apapun. ‘Kenapa tidak sekolah? Bisa baca tulis?’ Apa mereka tak punya pertanyaan lain?
“Sekolah kitu teh tabu palih dieu, lagipula itu ngalawan adat.. Pu’un teh nyarios kalau sekolah mah hanya menghabiskan waktu arurang, sedangkan arurang teh sibuk berladang dan mencari madu serta pohon aren untuk membuat gula aren.. lagipula, nanti teh pasti akan terjadi persaingan hidup, sedangkan pengetahuan dan kemajuan pasti tidak terbatas, lalu lupa wiwitan/tujuan hidup..”
“Apa peraturan itu tak bisa diubah? Apa yang terjadi jika kalian merubah itu semua?” Ramdhan semakin bersikukuh menanyakan hal-hal yang sebenarnya membuatku tidak nyaman dengan percakapan ini.
“Gunung tak diperkenankan dilebur, lembah tak diperkenankan dirusak, larangan tak boleh dirubah.. teu kenging teh tetep teu kenging..” pembicaraan kami terhenti ketika Eka masuk ke rumah panggungku dengan Izal mengekor di belakangnya. Aku menghela nafas lega.
“Besok para tetua arangkat ka Arca Domas, arurang sekarang baiknya tidur dulu besok kan maraneh mesti pulang..” Izal langsung angkat bicara begitu ia duduk bersila di sampingku. Ia membenarkan letak goloknya.
“Arca Domas?” Eka membeo.
“Besok kau akan tahu..” Izal memutuskan untuk tidur karena terlalu lelah dengan 2 orang yang banyak ingin tahu ini. Ia berbaring di atas tikar anyaman bambu. Aku pun ikut berbaring di samping Izal, Ramdhan dan Eka mungkin agak kesulitan karena belum terbiasa tidur tanpa alas kepala. Beberapa kali aku merasakan mereka menggeser badan ke kiri dan ke kanan untuk mencari posisi tidur yang pas. Aku mencoba untuk segera tidur namun pertanyaan-pertanyaan aneh mengganjal tidurku. Aku tak mampu mengenyahkannya dari pikiranku.
“Kau tidak akan tau dunia seluas apa yang selama ini coba kau tinggalkan jika kau tak berusaha untuk keluar dari kekangan adatmu.. baca, tulis, dan berhitung itu pengetahuan penting dalam hidup..” Ramdhan berbisik pelan ketika kudengar Izal dan Eka telah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.
Hari ini, para tetua tinggi dan beberapa orang kelompoknya dengan kedudukan yang tinggi pula pergi ke Arca Domas. Arca Domas adalah tempat keramat yang terletak di dekat air sungai ciujung dan sungai cisemer. Para tetua adat pergi ke sana di bulan kelima setahun sekali, itu adalah tempat bersemayamnya Bathara Tunggal, roh halus yang kami percayai. Hanya tetua tinggi dan kelompoknya yang boleh datang ke tempat keramat itu. Di dalam Arca Domas, ada sebuah batu lembing yang jika air hujan yang menggenanginya itu bening, maka itu pertanda panen kami takkan ada masalah. Sebaliknya, jika batu lembing itu keruh dan sedikit airnya, itu pertanda bahwa panen berikutnya akan gagal.
“Rupanya kepercayaan di sini masih sangat kental.. ” Ramdhan berkata sambil bersiap-siap pergi dari daerah kami. Orang asing hanya diperbolehkan menginap selama sehari saja di sini. Tidak.
Aku menoleh ke arah Ramdhan yang masih mengenakan pakaian adat putih-putih kami. “Muhun..” aku hanya menjawab ala kadarnya saja. Jujur saja, pikiran mengenai pendidikan dan baca tulis masih menggenangi benakku dan aku masih merasa asing dengan itu. Aku teguh memegang adatku, tapi disisi lain orang ini telah berhasil mempengaruhiku.
Bagaimana rasanya orang yang mengenyam pendidikan? Bagaimana dunia luar yang penuh persaingan hidup yang ketat dengan saling menumbangkan satu sama lain? Aku bergidik membayangkannya. “Aku akan segera kembali ke Malang. Terimakasih selama ini telah mengajariku banyak hal mengenai kehidupan urang Kanekes Dalam.. kapan-kapan datanglah ke Malang jika sempat!” Ramdhan menyerahkan secarik kertas putih yang di atasnya ada tulisan berwarna hitam, “Ini alamatku..” katanya sambil menyerahkannya kepadaku. Aku mengerutkan kening menerima secarik kertas kecil itu.
“Aku tak bisa baca..” kataku agak tersinggung pada Ramdhan. Ia hanya menggaruk kepala.
Sebelum pergi, Ramdhan mengatakan hal yang kembali membuatku resah, “Dunia luar itu tak seburuk yang kau kira, mungkin memang tak selaras dengan alam.. tapi, kami juga berusaha mengikuti perkembangan jaman sembari menjaga alam..” kemudian dia pergi. Aku hanya melihat punggungnya yang semakin menjauh dengan kening berkerut.

Sumber : Cerpen Raju
Read More

Pengeorbanan Ibuku dan Penyelesaiaanku

0
“Nak tolong ambilkan kacamata ibu nak”
“Ih ambil snediri emang gak bisa makannya jadi orang itu jangan cacat donk”
“Masya allah nak jangan ngomong begitu”
“Assalamua’alaikum”
‘Wa’alaikum salam eh pak ustadz, ada apa pak datang ke rumah saya?”
“Tadi saya denger keributan di rumah ini”
“Iya pak maaf tadi saya minta ambilkan kacamata saya tapi layla enggak mau, namanya anak anak pak emang begitu”
“Oh, layla kamu tidak boleh seperti itu sama ibu kamu bagaimanapun kedadaannya tapi dia ibumu dan yang telah melahirkanmu nak”
“Eh pak ustadz kalo mau ceramah jangan di rumah saya donk mau ceramah itu ya di mesjid lah”
“ya allah layla, maaf pak anak saya sedang khilaf”
“Iya tidak apa apa, ya sudah ini sudah malam saya mau pulang dulu ya”
“Iya pak”

“Bu kenapa ibu bilangin ke pak ustadz dih kalo aku gitu sama ibu”
“Maaf nak tapi sesama umat islam kita diajarkan oleh allah untuk tidak berbohong nak”
“Udah cukup ceramahin aku”



“ya allah berikanlah taubat ya allah pada anakku, ampunilah dosa dosa anakku ya allah”
“Ibuuuuk bisa gak sih gak berisik aku tu pusing dan muak dengerin suara tangisan ibu dan ocehan ibu yang gak jelas itu ”
“Masya allah nak jangan ngomong begitu”
“Udah deh aku mau tidur”
“Gak makan lagi”
“Gak aku muak liat tempe melulu”
“Masya allah nak jangan begitu meskipun lauk kita hanya tempe saja setiap hari tapi ini rezeki dari allah nak”
“Cukup buk cukup, kalo mau ceramah di masjid, jangan di rumah donk”



“Nak bangun udah pagi mau sekolah”
“Ah buk udah deh aku itu masih ngantuk gara gara ibu ngoceh ngoceh semalem, hari ini aku gak mau sekolah”
“ya allah nak nanti kamu gak naik ke kelas 5 nak kan kamu mau ujian”
“Eh buk ibuk mau menghina aku ya karena setiap naikkan kelas aku selelu dapet peringkat 15 dan bla bla bla”
“Bukan itu maksud ibu nak”
“Pergi sana”
“Iya nak”
“Aduuuuh”
“Kamu kenapa nak”
“Udah pergi sana”



“Dok saya kenapa ya”
“Kamu terkena penyakit gagal ginjal”
“Apa, stadium berapa saya dok”
“Kamu sudah mencapai stadium 4″
“Jadi waktu hidup saya sudah tidak lama lagi ya”
“Kemuangkinan iya”
“Berapa lama saya bisa hidup”
“Hidup dan mati adalah kehendak allah nak”



“Apa ini, hah layla terkenaa penyakit gagal ginjal stadium akhir, ya allah kenapa layla gak pernah cerita sama saya ya allah, layla umurumu masih lama ibu mau kamu harus meraih cita cita mu nak, biarkan ibu mati duluan, ibu akan mendonorkan ginjal ibu dengan kamu nak”



“Dok apa benar anak saya yang bernama layla terkelan penyakit gagal ginjal stadium akhir dok”
“Iya bu benar, memeng kenapa”
“Apa saya bisa mendonorkan ginjal saya untuk anak saya dok”
“Tentu bisa tapi kalau ibu dan anak ibu bersedia”
“Saya dan anak saya bersedia dok”
“Baik besok ibu datang membawa anak ibu ya”
“Apa dokter bisa menjemput anak saya, saya tidak mau smapai anak saya tahu dok”
“Baik buk”



Tok tok tok
“Iya sebentar”
“Eh pak dokter itu anak saya pak sudah saya beri obat pingsan dari dokter”
“Ayo bu kita berangkat sekarang”
“Ayo pak”



“Loh dok kok saya ada di rs sih”
“Kamu baru saja selesai dioperasi”
“Kenapa saya dioperasi dok”
“Karena penyakit kamu”
“Maksud nya”
“ya ibu kamu mendonorkan ginjalnya kepada kamu”
“Apaaa, sekarang dimana ibu saya dok”
“Dia sudah meninggal dek”
“Apaaa ibuuuuuuu jangan tinggalin layla buuu layla gak mauau ditinggal ibu sendirian”
“Sebelum ibu kamu meninggal dia menitipkan pesan untuk kamu”
“Apa dok”
“Kata ibu kamu, kamu harus bertaubat kepada allah atas kesalahan kamu, mati dan hidup ada di tangan allah dan tidak ada yang mengetahuinnya dan ibu kamu akan selalu ada di sisi dan hati kamu meskipun kamu udah jahat sama ibu kamu hanya itu pesan ibu kamu”
“Makasih dok”
“Iya”
“Ibuuuuuuuu”

1.Pesan nasehat untuk kalian para pembaca cerpenku.
“Janganlah engkau durhaka kepada ibu kalian karena itu tidak ada gunanya bagaimana saat ibu tidak ada di samping kita kalian pasti susah jadi bertaubat lah jangan durhaka kepada ibu sesalilah perbuatanmu, minta maaf la kepada ibu mu, saat kalian sakit ibu kalian pasti akan berkorban untuk kalian jadi jangan lah kalian sia siakan waktu hidup mu bersama ibumu”

Sumber : Cerpen Fanessa Amanda
Read More

Jangan Duakan Aku

0
Malam itu, aku habis putus sama pacarku yang namanya andika, karena dia sudah selingkuh di belakangku. Kemudian aku teringat dengan ajakan dari jun, seorang sahabat yang paling bisa ngertiin aku selama ini.
Kemudian aku langsung mengirikan pesan singkat ke dia.

“jun, aku boleh minta tolong kan sama kamu? Aku baru putus sama andika, dia selingkuh di belakang aku tau. Aku coba deh ajakan mu yang minggu lalu itu.” kata ku.
Tak lama kemudian hpku bergetar tanda ada sms masuk, ku lirik hp ku, dan ternyata yang sms aku itu jun. Lalu ku buka sms dari dia
“iya na. Aku tanya temanku dulu ya, siapa tau dia masih jomblo.”
“ya jun, makasi ya udah mau bantuin aku.” balasan dariku kemudian.

Dan beberapa jam kemudian, hpku bergetar lagi, ternyata jun yang sms ku lagi. Tanpa basa basi, langsung ku buka sms darinya
“na, kamu beruntung kali sekarang. Dia lagi jomblo, namanya bayu, dia orangnya kalem, udah kalem pinter lagi”
Kemudian aku balas sms dari jun
“iya jun, aku coba deh, sekalian juga aku belajar banyak dari dia”
“iya na, tunggu ya sms masuk dari dia, dia udah minta no hp kamu di aku”
“ya jun, aku tunggu”

Setelah lama menunggu, tanpa ku sadari, ternyata ada sms masuk dari nomor hp yang tidak ku kenali sebelumnya.
“kamu nana ya?”
Kemudian ku balas smsnya itu,
“iya bener, ini siapa ya?”
“aku bayu, boleh kenalan gak?”
“boleh aja kok. Kamu temannya jun ya?”
“iya na. Katanya jun, kamu lagi sendiri ya?”
“iya nih. Habis diputusin sama pacar, ku gak nyangka dia bakal nyakitin aku, sebelumnya aku kira dia itu orang yang baik. Dan ternyata dugaanku itu salah, dia tidak sebaik yang aku kira”
“sabar ya na, mungkin dia orang yang belum tepat buat kamu” jelas bayu dan berusaha menenangkan ku.

Setelah beberapa lama aku kenal dengannya, aku jadi tau sifatnya dia itu kayak gimana. Ternyata benar katanya jun, dia itu orangnya baik, udah gitu kalem lagi. Aku sering juga diajakin bercanda, sering dihibur kalau aku lagi sedih.

Suatu hari, tiba-tiba bayu menanyakan sesuatu padaku.
“nana.. Aku boleh nanya sesuatu kan?”
“mau nanya apa yu?”
“kamu udah punya pacar belum na?”
“belum yu, kalau kamu gimana? Udah punya pacar belum?”
“sama kayak kamu na.. Belum, aku masih single. Oya na, mumpung kamu masih single, aku boleh gak minta sesuatu sama kamu?”
Iya yu, mau minta apa?”
Setelah ku balas smsnya, kemudian entah kenapa dia tidak membalas smsku, aku gak tau pasti sebab kenapa dia tidak membalas smsku. karena hari itu sudah larut malam, dan aku tidak bisa menahan rasa kantukku, kemudian tanpa ku sadari, aku pun tertidur.

Besok paginya, setelah ku bangun tidur, ku langsung mengambil hpku yang ada di atas meja belajar, ternyata semalam bayu membalas sms ku.
“kamu mau jadi pacarku, na?”

Aku pun terkejut, aku gak tau kenapa dia mengajakku pacaran
Kemudian ku balas smsnya yang semalam itu.
“apa kamu gak salah yu?”

Setelah ku balas smsnya, langsung saja aku meninggalkan hpku di kamar, karena aku akan bergegas pergi ke luar rumah.
Siangnya, aku segera mengambil hpku lagi. Ternyata ada sms masuk dari bayu.
“gak na, aku serius, aku itu suka sama kamu, na… Kamu mau ya jadi pacar aku?”

Pada waktu itu aku terkejut sekali, langsung saja aku menelpon jun.
“hallo na, kenapa?”
“jun, bayu ngajakin aku pacaran, gimana nih?”
“terima aja na, dia orangnya baik kok, kan kamu dah lama tu kenal sama dia, berarti udah tau donk sifatnya dia kayak gimana.”
“ya deh jun, aku bakal nerima dia, tapi kamu yakin gak kalau dia gak bakal selingkuh?”
“yakini aja na, dia orangnya polos, jadi gak mungkin banget kan dia kayak gitu sama kamu”
“iya juga sih, jun”
Kemudian ku tutup telponnya dan langsung membalas sms dari bayu.
“iya deh yu, aku mau. Tapi kamu janji ya gak bakal ninggalin aku, apalagi selingkuh”
“iya na, aku janji gak bakal kayak gitu sama kamu.”
“dan aku mau, selama kita pacaran nanti, kamu bakal nerima aku apa adanya ya.”
“iya na, karena aku suka sama kamu, dan serius mau pacaran sama kamu, aku bakal nerima kamu apa adanya”
“inget. Kamu jangan pernah php-in aku.”
Karena hari saatnya aku tidur siang, aku pun tidur, dan dia pun juga begitu.

Sorenya, setelah bangun dari tidur siang, aku kembali sms bayu.
“kamu udah bangun?”
“udah na”

Tetapi semua itu rasanya cepat sekali berlalu, gak terasa sudah hampir 1 minggu aku pacaran sama dia, dan diawalnya terasa indah banget, pertama pacaran itu, dia sering nelpon aku, sering ngasi kabar, sering nanya kabar ku, tapi semua itu sudah hilang, aku gak tau penyebab pastinya dia berubah kayak gini. karena rumah jun agak dekat dengan bayu, aku mnyuruh jun untuk menyampaikan pada bayu, agar menuliskan sesuatu tentangku. Keesokannya setelah 1 minggu pas aku berpacaran dengannya, aku mendapatkan surat itu. Di dalam surat itu hanya ada kepalsuan. Dia bilang, dia sayang sama aku, tapi kenapa dia berubah 180 derajat?
2 minggu aku bertahan demi dia. Tanpa kabar, tanpa perhatian penuh layaknya pacar. Aku hanya bisa menerimanya dengan pasrah, rasa kesal dan kecewa karena sudah nerima dia sebagai pacarku kalau bakal gini jadinya.
3 hari sesudah ku genap 2 minggu dengan bayu, ada cowok yang sms aku, namanya adi dia kayaknya baik deh. Mungkin tuhan lebih sayang padaku, oleh karena itu, aku sudah dikasi tanda kalau aku bakal mau putus sama bayu.

Tepat jam 12.30 malam, aku belum tidur, karena memikirkan keadaannya bayu di sana yang berhari hari tanpa kabar yang jelas, aku tanya pada jun, dia gak pernah liat bayu. Dia kemana sih sebenernya?
Tiba-tiba jun menelponku, karena pada saat itu dia juga belum tidur, makannya dia nelpon aku. Dia memberikan info tentang bayu, bersama ratna.

“hallo nana, ni aku jun. Aku mau bilang sesuatu sama kamu tentang bayu”
“iya mau bilang apa jun? Bikin aku penasaran aja.”
“duh na. Aku gak kuat lho, ratna aja deh yang ngasi tau ya”
“nana, nie aku ratna. Aku mau bilang sesuatu sama kamu, tapi aku mohon sama kamu kalau kamu gak akan sedih”
“iya mau bilang apaan sih? Udah penasaran nie.”
“nana, sebernya bayu itu selingkuh.”
“masa sih? Kamu bercanda kan ratna?”
“endak na, aku serius, dia yang ngasi tau sendiri ke aku, tapi sebenernya aku udah janji sama dia gak bakal ngasi tau semua ini ke kamu, tapi karena hal ini penting dan kamu harus tau, maka aku rela ngingkar sumpah ku demi kamu na. Nama selingkuhannya devi.”

Seketika air mataku menetes dan lama kelamaan jadi mengalir deras, sampai-sampai aku tak bisa mengontrol nafasku karena harus menahan sakit yang ada di hatiku ini, akan tetapi dalam situasi dan kondisi yang seperti ini, aku hanya bisa sabar dan menerima kenyataan pahit seperti ini.

Di awal pagi, aku jadi cemberut, sampai sampai ibu ku menanyakan padaku penyebab aku cemberut. Sialan! Kenapa aku gak punya pikiran buat selingkuh yah?

Kemudian tiba tiba ratna sms aku, dan memberi saran yang terbaik.
“nana aku punya saran, mending kamu putusin aja bayu. Dari pada kamu disakitin kayak gini.”
“ya deh ratna, aku coba turutin, siapa tau mempan”
“good luck!”

Sorenya aku mencoba menelpon bayu, dan minta putus sama dia karena aku udah gak kuat diginiin terus. Akhirnya pada waktu itu juga aku putus sama dia. Semenjak aku putus sama dia, hidupku menjadi lebih tenang. Sekarang aku tau kalau dia orangnya play boy, cuma omongan aja, tapi kata-katanya gak ada artinya.

Sumber: Cerpen Nana Diana
Read More

GENG

0
Aku memasuki halaman sekolah baruku, SMA Triguna Utama, dengan hati cemas. Aku takut kalau-kalau aku tidak bisa mendapatkan teman di sekolah itu. Saat itu hari pertama masuk sekolah bagi para murid baru di sekolah itu. Suasananya sangat ramai, tapi tak ada seorang pun yang ku kenal. Aku berdiri mematung di depan gerbang sekolah. Sampai akhirnya aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal.
“Lo, anak SMP 3 kan?” tanya anak itu padaku.
“Iya,” jawabku singkat. Aku mengenal anak itu. Ia teman sekolahku sewaktu SMP, tetapi tidak sekelas.
“Bareng yuk, masuk!” ajaknya. Aku pun menuruti ajakannya, daripada bengong di depan gerbang.
Sampai di dalam, kami para murid baru dikumpulkan di sebuah ruangan. Aku kebingungan sendiri. Temanku yang tadi, sudah sibuk berkenalan dengan anak-anak lain. Sementara aku sendiri malu untuk mengajak kenalan mereka. Sebenarnya banyak yang mengajak aku kenalan, tapi aku selalu lupa nama-nama mereka.
Sewaktu MABIS, aku duduk sebangku dengan seorang anak bernama Metria. Walaupun duduk sebangku, kami berdua jarang ngobrol. Aku memang sulit untuk akrab dengan orang baru.
Hari pertama kegiatan belajar-mengajar dimulai, aku duduk di tempat yang sama dengan tempat dudukku sewaktu MABIS. Tetapi Metria, teman sebangkuku sewaktu MABIS, tidak lagi duduk di sebelahku. Ia pindah duduk di depan. Tak lama, ada seseorang yang menghampiriku.
“Boleh nggak gue duduk di sebelah lo?” tanya anak itu.
“Ya, terserah,” jawabku jutek.
Setelah pelajaran dimulai, kami kemudian berkenalan.
“Gue Nina,” kata anak itu menyebutkan namanya.
“Novi,” jawabku.
“Lo dari sekolah mana?” tanyanya lagi.
“SMP 3 Ciputat,”
Tapi aku tidak bertanya-tanya lagi. Aku malas buat bertanya balik.
Setelah sekian lama, aku jadi cukup akrab dengannya.
“Vi, lo mau ikut ekskul apa?” tanya Nina ketika Pak Sumaji memberikan informasi tentang ekskul.
“Nggak tau, ya… Nggak ada yang seru,” jawabku.
“Ikut rohis aja, yuk! Belajar baca Al qur’an… daripada marawis, lebih susah. Lagi juga katanya wajib,” bujuknya.
“Ya udah deh…” jawabku pasrah.
Tak hanya itu, aku juga akhirnya mulai mengenal Meri, Sari, Friska dan Mia. Mia yang cerewet, paling suka meledeki aku.
“Hoi, Sri Nina!” panggil Mia padaku.
Aku dan Nina menoleh ke arah Mia.
“Mia, nama orang jangan diganti-ganti, dong!” protes ku.
“Tau lo. Emang lo mau, nama lo gue ganti jadi Mia Arum?” balas Nina. Waktu itu Mia masih duduk sebangku dengan Arum.
“Hahahaha…” Mia ketawa.
“Yah, tuh anak bukannya mikir digituin, malah ketawa…” kataku.
Setelah Meri pindah pada pertengahan semester, aku mulai akrab dengan Arum, yang tadinya menurutku dia orang yang jutek. Di semester kedua, pertemanan kami semakin akrab. Suatu hari, aku, Nina, Arum dan Sari tengah asyik bercanda di depan kelas. Saat itu kami sedang menunggu anak laki-laki yang sedang sholat jum’at, karena sehabis itu kami akan praktek hafalan juz amma di masjid.
“Woi, sempit tau di tengah kalian berdua, badannya gede-gede,” Nina yang berada di tengah-tengah aku dan Arum mengomel sendiri. Ia pindah lalu berdiri di samping kanan Arum.
“Ya maklum namanya juga kebo,” kata Arum pada ku.
“Kalo gue kebo, berarti lo apaan?”
“Udah. Sesama kebo jangan saling berantem,” ledek Nina pada kami berdua.
“Ogah gue jadi kebo. Lo aja yang jadi kebo, Rum,” tolakku.
“Eh, mending kita panggil nama kita pake nama itu aja!” usul Arum.
“Oke, lo kebo ya, Rum,” kataku.
“Lah lo apaan? Banteng aja dah, ya?”
“Nanti gue bisa nyeruduk lagi,” elak ku.
“Terus lo jadi apaan, Nin?”
“Lo kambing aja, Nin,” usul arum.
“Hehehe… mentang-mentang gue kecil. Tapi gue nggak bau kan, kayak kambing?”
Kami bertiga tertawa.
“Eh, tuh anak jadi apaan ya?” tunjuk ku pada Sari yang tengah duduk sambil memainkan handphonenya.
“Dia mah sapi aja,” jawab Arum asal.
“Hahahahaha…” kami bertiga tertawa.
Sari menoleh pada kami bertiga. Ia curiga kalu kami menertawai dia.
“Kalian pada kenapa?” tanyanya polos.
“Nggak, nggak kenapa-kenapa kok..”
“Ada yang aneh sama gue?” tanyanya lagi.
“Nggak kok. Ge-er banget sih lo…” kata Arum.
“Jadi gini lo, Sar… kita lagi cari nama panggilan yang unik. Si Arum jadi kebo, Novi jadi banteng, gue jadi kambing, nah kata Arum lo jadi sapi…” jelas Nina.
Sari manggut-manggut agak nggak ngerti.
“Terus, nama kelompok kita apaan, nih?”
“Hmm… kalau nama kita binatang semua, gimana kalau bahasa inggrisnya binatang, animal?” usul Nina.
Semuanya mendelik.
“Animal ya? Lucu juga,” komentar Arum.
“Ya udah, itu aja,” kata Sari.
“Terserah kalian aja, deh,” kataku. Selama ini aku nggak pernah main genk-genk an kayak gitu.
Jadilah pada hari itu, nama animals. Biarpun namanya binatang, tapi kami tidak bertingkah seperti binatang yang suka nggak nurut dan bertindak semaunya. Kami tetap menjadi anak yang rajin, saling membantu dalam hal positif, dan tidak mencari-cari masalah. Aku senang dengan teman-temanku sekarang. Mereka semua baik dan kompak. Semoga pertemanan kami tidak terpecah sampai nanti kami lulus dan berpisah.
Sumber: Cerpen Karangan Nur Fajrina
Read More